kemarin hari saat menemui kawan dan family nun di kampung halaman tempat saya dilahirkan, ada yang menggelitik dan menjadi bahan pemikiran buat saya perihal kejadian yang diceritakan kawanku itu.
Dekat rumah saya, tidak lebih dari 50 meter terdapat sebuah mesjid jami. disanalah warga kampung kami melaksanakan ibadah, pengajian, dan kadang jadi tempat menginap para pemuda termasuk saya, sewaktu pulang menonton pertunjukan pongdut atau pilem layar tancap dini hari, dan kami tak mungkin pulang kerumah selarut itu, karena jika tetap memaksa, orang tua kami akan menyambut dengan sebatang tongkat dari rotan dengan dua vonis, pertama karena pulang larut malam, dan keduanya nonton pertunjukkan yang mereka anggap tidak senonoh.
hal itu tidak terampuni dan harus di hukum cambuk rotan sebanyak sepuluh kali di telapak kaki, sebagai balasan terhadap perbuatan kami menggunakan kaki untuk maksiat, begitu pandangan mereka. untuk mengatasi hukuman maka kami menemukan satu cara yang memang terbukti ampuh untuk mengelabui orang tua kami, yaitu dengan menginap di mesjid.
bagaimanapun juga mereka akan bangga jika anaknya menginap di masjid dengan satu alasan, mereka berharap anak-anaknya ikut berjamaah shalat shubuh. dan tentu saja kenyataannya lain dari apa yang mereka harapkan, karena biasanya jika petugas mesjid membangunkan kami di waktu fajar, kami baru saja terlelap. maka kami pura-pura ke jamban untuk mengambil air wudhu, saat petugas mesjid asyik dengan mikrophone melantunkan puji-pujian, satu persatu kami mengendap-ngendap menuju poskamling untuk melanjutkan acara tidur kami yang terganggu, dengan suara puji-pujiannya yang memekakkan telinga kami...hehehe
kawan, yang akan saya ceritakan disini sekarang. setelah saya mendengar cerita ini dari kawan saya yang notabene menyaksikan sendiri kejadiannya, adalah tentang petugas mesjid yang saya ceritakan diawal tulisan ini.
dia seorang yang sudah berumur lanjut, tapi sikap egois dan keras kepala adalah wataknya yang sudah kental, tak mengingat lagi usianya yang sudah "bau tanah" begitu kalau istilah peribahasamah. walaupun dia bukan seorang yang ahli di bidang agama, tapi dia menganggap dan menetapkan dirinya sendiri sebagai penguasa mesjid, dan tentu saja tidak ada yang menganggapnya demikian, karena warga yang lain mampu menilai kapasitas dan keilmuannya. namun warga kampung kami juga tidak menggubris keinginannya itu, apa salahnya memberi sedikit kesenangan pada orang tua yang sudah udzur itu.
jadilah dia seorang penguasa mesjid dalam "arti yang lain". tentu saja kawan akan kebingungan dengan istilah "dalam arti yang lain" yang saya maksudkan.
yang ingin saya ceritakan disini adalah, dia menjadi penguasa mikrophone yang ada di mesjid. dan kawanku yang baik...kalian pasti akan lebih bingung lagi, lho kok bisa ada orang yang ngotot ingin menjadi penguasa mikrophone mesjid, padahal harga sebuah mikrophone tak semahal pesawat terbang, adik saya yang masih TK aja punya mikrophone di rumah, yang sering dia gunakan untuk berkaraoke ria.
"sang penguasa mikrophone" begitulah kami menyebutnya, dan semua warga kampung kami sudah memaklumi. pasalnya jika ada seseorang yang berani menggunakan mikrophone mesjid untuk adzan atau melakukan puji-pujian tanpa seizinnya, maka bersiaplah untuk berperang dengannya. dan tentu saja kami yang mampu berfikir dengan waras, tidak akan mau bertengkar dengan alasan berebut mikrophone, sungguh therrrlaluuuu....:)
namun kejadian tragis ini menimpa seorang warga baru di kampung kami. dia seorang dari luar yang menikah dengan seorang gadis kampung kami. selayaknya orang baru, selalu ingin menunjukkan perhatian untuk meraih simpati dari warga lainnya, dan jadilah dia orang yang rajin ke mesjid. shalat berjamaah, dan ikut pengajian-pengajian yang diseleggarakan oleh pihak mesjid. dan naas baginya di suatu subuh yang teduh, dia berniat menggunakan kesyahduan waktu untuk mengingatkan warga dengan kalam-kalam illahi dan puji-pujian atas nabi, maka bersenandunglah dia menggunakan mikrophone mesjid dengan sangat khusyu.
rupanya sang penguasa mikrophone bangun agak terlambat, sehingga mikrophone mesjid tercintanya sudah diambil alih. namun tidak lama kemudian sang mpunya mikrophone tak urung bangun jua. setelah menyadari ada yang tidak beres, dia bergegas ke mesjid dengan marah yang terhunus seperti 300 prajurit sparta yang haus darah untuk mempertahankan kedaulatan negrinya yang terampas.
dengan harga diri yang terluka dia merampas paksa mikrophone dari anak muda shaleh yang belum mengerti keadaan dan situasi sesungguhnya, sambil mencak-mencak dan melontarkan caci maki yang sesungguhnya tidak layak diucapkan di rumah Tuhan yang suci itu.
merasa tidak di hargai dan dilecehkan anak muda itupun melawan tak kalah sengitnya, dan tentu saja dari sisi manapun anak muda lebih kuat dari orang tua yang sudah renta. jadilah subuh yang hening dan bening itu gegap gempita oleh "tragedi mikrophone"
warga kampung yang mendengar suara ribut-ribut, segera berkerumun mendatangi asal suara. dan setelah menyadari apa yang sesungguhnya terjadi, mereka berusaha melerai dan mendamaikan keduanya. kendati keduanya masih dibakar api emosi, akhirnya mereka bersepakat untuk berdamai karena begitu banyaknya warga yang mendesak.
namun selang sehari setelah kejadian, anak muda idealis yang kurang memahami keadaan itu tiba-tiba merasakan keanehan pada dirinya yang tidak lazim, ada rasa sakit yang begitu menyiksa yang datang tanpa sebab. diperkuat dengan suara ejekan yang lantang diteriakkan sang penguasa mikrophone dengan mikrophonenya. maka di ambil kesimpulan bahwa ia kena guna-guna.
sampai disini cerita kawan saya.
dan saya hanya mampu berkata "sungguh therrrlllaaaaalhuuuuuuu"
dan entah menurut anda????
Tidak ada komentar:
Posting Komentar