29 Maret 2011

sekelumit kisah kami

Disaat semua orang sudah melaju jauh entah di saujana mana, kami baru memulai langkah pertama, tapi kami tetap bangga meskipun jauh terlambat.

kami punya pilihan untuk tetap tinggal di kampung halaman dan menciptakan kehidupan kami sendiri, karena tanah dan kebudayaan lokal warisan moyang kami harus tetap terjaga dan lestari. kadangkala kami iri melihat dan mendengar cerita kawan-kawan kami yang terseret arus urbanisasi ke kota-kota besar yang gemerlap dengan lampu-lampu jalanan, dimanjakan dengan kemudahan fasilitas dan kemewahan. namun demikian kami tetap berikhtiar untuk bertahan dan terus membelajarkan diri kami supaya terus berkembang dan memiliki penghidupan yang layak sekaligus menjunjung nilai lokal dan segala kearifannya. dan inilah ikhtiar kami...

1. berbagi pengetahuan dan saling menguatkan


2. tabungan jangka panjang


3. tabungan jangka pendek




ya baru sebatas inilah yang baru kami kerjakan, dan terus menggali potensi sumberdaya di sekeliling kami. semoga senantiasa diberi kekuatan dan konsistensi untuk terus melangkah maju...

24 Maret 2011

tentang perjalanan kami menjadi petani lele

awalnya karena melihat pekarangan yang tidak terawat dan malah menjadi rimbun gak jelas. lalu bersama temen-temen komunitas berembuk, dan kebetulan salah satu kawan kami ada permintaan bibit dari pembudidaya pembesaran lele, maka kamipun memutuskan untuk terjun di budidaya lele dan fokus untuk pembenihan, meskipun kami sangat awam dan hanya berbekal dari buku dan sumber di internet, juga bertanya-tanya ke petani2 lokal, akhirnya mulailah kami membudidayakan lele....dan inilah langkah awal kami...

1. bergotong royong membuat kolam plastik


2. kolam untuk pendederan


3. kolam induk

4. kolam pemijahan dan tandon air

5. kolam penetasan telur dan pemeliharaan larva


6. kegiatan seleksi induk

7. pemasangan kakaban

8. kegiatan penetasan telur



sekian dulu kegiatan kami, nanti di update lagi setiap perkembangannya.

Foto kelinciku






ini tentang kehormatan atau ketololan

kemarin hari saat menemui kawan dan family nun di kampung halaman tempat saya dilahirkan, ada yang menggelitik dan menjadi bahan pemikiran buat saya perihal kejadian yang diceritakan kawanku itu.


Dekat rumah saya, tidak lebih dari 50 meter terdapat sebuah mesjid jami. disanalah warga kampung kami melaksanakan ibadah, pengajian, dan kadang jadi tempat menginap para pemuda termasuk saya, sewaktu pulang menonton pertunjukan pongdut atau pilem layar tancap dini hari, dan kami tak mungkin pulang kerumah selarut itu, karena jika tetap memaksa, orang tua kami akan menyambut dengan sebatang tongkat dari rotan dengan dua vonis, pertama karena pulang larut malam, dan keduanya nonton pertunjukkan yang mereka anggap tidak senonoh.


hal itu tidak terampuni dan harus di hukum cambuk rotan sebanyak sepuluh kali di telapak kaki, sebagai balasan terhadap perbuatan kami menggunakan kaki untuk maksiat, begitu pandangan mereka. untuk mengatasi hukuman maka kami menemukan satu cara yang memang terbukti ampuh untuk mengelabui orang tua kami, yaitu dengan menginap di mesjid.


bagaimanapun juga mereka akan bangga jika anaknya menginap di masjid dengan satu alasan, mereka berharap anak-anaknya ikut berjamaah shalat shubuh. dan tentu saja kenyataannya lain dari apa yang mereka harapkan, karena biasanya jika petugas mesjid membangunkan kami di waktu fajar, kami baru saja terlelap. maka kami pura-pura ke jamban untuk mengambil air wudhu, saat petugas mesjid asyik dengan mikrophone melantunkan puji-pujian, satu persatu kami mengendap-ngendap menuju poskamling untuk melanjutkan acara tidur kami yang terganggu, dengan suara puji-pujiannya yang memekakkan telinga kami...hehehe


kawan, yang akan saya ceritakan disini sekarang. setelah saya mendengar cerita ini dari kawan saya yang notabene menyaksikan sendiri kejadiannya, adalah tentang petugas mesjid yang saya ceritakan diawal tulisan ini.


dia seorang yang sudah berumur lanjut, tapi sikap egois dan keras kepala adalah wataknya yang sudah kental, tak mengingat lagi usianya yang sudah "bau tanah" begitu kalau istilah peribahasamah. walaupun dia bukan seorang yang ahli di bidang agama, tapi dia menganggap dan menetapkan dirinya sendiri sebagai penguasa mesjid, dan tentu saja tidak ada yang menganggapnya demikian, karena warga yang lain mampu menilai kapasitas dan keilmuannya. namun warga kampung kami juga tidak menggubris keinginannya itu, apa salahnya memberi sedikit kesenangan pada orang tua yang sudah udzur itu.


jadilah dia seorang penguasa mesjid dalam "arti yang lain". tentu saja kawan akan kebingungan dengan istilah "dalam arti yang lain" yang saya maksudkan.


yang ingin saya ceritakan disini adalah, dia menjadi penguasa mikrophone yang ada di mesjid. dan kawanku yang baik...kalian pasti akan lebih bingung lagi, lho kok bisa ada orang yang ngotot ingin menjadi penguasa mikrophone mesjid, padahal harga sebuah mikrophone tak semahal pesawat terbang, adik saya yang masih TK aja punya mikrophone di rumah, yang sering dia gunakan untuk berkaraoke ria.


"sang penguasa mikrophone" begitulah kami menyebutnya, dan semua warga kampung kami sudah memaklumi. pasalnya jika ada seseorang yang berani menggunakan mikrophone mesjid untuk adzan atau melakukan puji-pujian tanpa seizinnya, maka bersiaplah untuk berperang dengannya. dan tentu saja kami yang mampu berfikir dengan waras, tidak akan mau bertengkar dengan alasan berebut mikrophone, sungguh therrrlaluuuu....:)


namun kejadian tragis ini menimpa seorang warga baru di kampung kami. dia seorang dari luar yang menikah dengan seorang gadis kampung kami. selayaknya orang baru, selalu ingin menunjukkan perhatian untuk meraih simpati dari warga lainnya, dan jadilah dia orang yang rajin ke mesjid. shalat berjamaah, dan ikut pengajian-pengajian yang diseleggarakan oleh pihak mesjid. dan naas baginya di suatu subuh yang teduh, dia berniat menggunakan kesyahduan waktu untuk mengingatkan warga dengan kalam-kalam illahi dan puji-pujian atas nabi, maka bersenandunglah dia menggunakan mikrophone mesjid dengan sangat khusyu.


rupanya sang penguasa mikrophone bangun agak terlambat, sehingga mikrophone mesjid tercintanya sudah diambil alih. namun tidak lama kemudian sang mpunya mikrophone tak urung bangun jua. setelah menyadari ada yang tidak beres, dia bergegas ke mesjid dengan marah yang terhunus seperti 300 prajurit sparta yang haus darah untuk mempertahankan kedaulatan negrinya yang terampas.


dengan harga diri yang terluka dia merampas paksa mikrophone dari anak muda shaleh yang belum mengerti keadaan dan situasi sesungguhnya, sambil mencak-mencak dan melontarkan caci maki yang sesungguhnya tidak layak diucapkan di rumah Tuhan yang suci itu.


merasa tidak di hargai dan dilecehkan anak muda itupun melawan tak kalah sengitnya, dan tentu saja dari sisi manapun anak muda lebih kuat dari orang tua yang sudah renta. jadilah subuh yang hening dan bening itu gegap gempita oleh "tragedi mikrophone"


warga kampung yang mendengar suara ribut-ribut, segera berkerumun mendatangi asal suara. dan setelah menyadari apa yang sesungguhnya terjadi, mereka berusaha melerai dan mendamaikan keduanya. kendati keduanya masih dibakar api emosi, akhirnya mereka bersepakat untuk berdamai karena begitu banyaknya warga yang mendesak.


namun selang sehari setelah kejadian, anak muda idealis yang kurang memahami keadaan itu tiba-tiba merasakan keanehan pada dirinya yang tidak lazim, ada rasa sakit yang begitu menyiksa yang datang tanpa sebab. diperkuat dengan suara ejekan yang lantang diteriakkan sang penguasa mikrophone dengan mikrophonenya. maka di ambil kesimpulan bahwa ia kena guna-guna.


sampai disini cerita kawan saya.

dan saya hanya mampu berkata "sungguh therrrlllaaaaalhuuuuuuu"

dan entah menurut anda????

22 Maret 2011

Belajar Kearifan Hidup dari orang yang terabaikan

namanya andi, orang sekampungku sering memanggilnya dengan sebutan "gondil" entahlah asal muasal nama alias itu sejak kapan diberikan padanya aku tidak tahu, pekerjaan sehari-harinya mengumpulkan kayu bakar dari batang daun kelapa kering, atau di sebut barangbang atau baralak dalam bahasa sunda.

gondil, kita sebut saja demikian, karena memang itulah nama panggilannya, tidak mengenal huruf, karena tidak pernah makan bangku sekolah (memangnya siapa yang makanannya bangku sekolah???), maksudku dia tidak pernah belajar di sekolah seperti kita, dan mengenyam pendidikan baca tulis, dia juga tidak mengenal dunia luar, tidak pernah nonton televisi, apalagi bemain fesbuk,

pagi buta di saat orang-orang kampung masih terlelap, gondil sudah siap dengan peralatan kerjanya, golok di pinggang, gantar dari bambu panjang yang ujungnya diberi pengait ditenteng di pundaknya, dan menjelang remang subuh dia sudah berada di hutan,

dia berkeliling dari satu pohon kelapa ke pohon kelapa yang lainnya, melihat-lihat mana batang daun kelapa yang sudah kering dan mudah untuk dikait dengan gantar bambunya, setelah ditemukan maka dikaitlah barangbang-barangbang itu dengan cekatan, setelah dapat sekira 3-5 batang maka dia akan pulang, membawa hasil kerjanya

sampai di rumah dia selalu menyimpan hasil pekerjaannya di belakang rumah yang sudah dia set sedemikian rupa untuk tempat penyimpanan, lalu dia pergi ke dapur mencari makanan, orang-orang rumahnya terutama kaka dan ibunya, karena dia sudah tidak punya ayah, sudah mengerti betul jadwal gondil ini, mereka selalu sedia menyajikan makanan, maka gondil bisa menyantap sajian ini dengan lahap,

selesai makan dia langsung membelah-belah batang daun kelapa itu menjadi beberapa bagian, lalu menjemurnya, setelah itu dia kembali ke hutan sampai menjelang dzuhur melakukan aktivitas yang sama seperti yang dilakukannnya di pagi buta, dan seterusnya sampai tiga kali dalam sehari dia akan melakukan hal itu, lengkap dengan acara makan dan membelah-belah batang daun pohon kelapa itu menjadi beberapa bagian dan menjemurnya.

pernah suatu kali aku bertanya kepada orang sekampungku perihal gondil ini, mengapa dia sampai tidak mengenyam pendidikan formal, dan setelah kutelusuri ternyata dia pernah sekolah di madrasah ibtidaiyyah 30 tahun yang lalu, namun dia sedikit terganggu jiwanya dan memilih keluar ketika belum seminggu menikmati pelajaran sekolah, ceritanya begini.

dia memiliki satu pensil yang sangat dia sukai, ya layaknya anak-anak kecil akan menganggap sangat berarti apapun yang disukainya meskipun itu sangat sepele dalam pandangan orang dewasa, dan nasib sial memang sedang akrab pada gondil pada waktu itu, pensil kesayangannya itu raib entah kemana, dia sangat terpukul dengan kejadian itu, dan membuat jiwanya terguncang, tidak ada seorangpun yang mengerti dan mampu menyembuhkan luka hatinya, dan peristiwa itu mengubah arah hidupnya hingga hari ini

entah kapan dia memulai aktivitasnya sebagai pengumpul batang daun kelapa kering, biarlah hanya dia dan keluarga yang mengetahuinya, dan perlu diketahui dia adalah tulang punggung dalam kelurganya,

yang menarik dari kehidupannya, dan kadang membuatku iri, dia tidak pernah sekali saja mengeluh, dan tidak pernah kehilangan tawa di bibirnya, selama pohon kelapa memberinya kehidupan dia tidak akan peduli pada apapun, dan pohon kelapa selalu berbaik hati padanya, dia dan pohon kelapa sudah bermutualisme, dan saling berbicara satu samalain dengan bahasa yang tidak akan pernah kita pahami, aku kira pohon kelapa telah banyak mengajarinya tentang kehidupan,

satu lagi yang aku kadang tidak mengerti dengannya, meskipun tak pernah bergaul secara langsung dengan orang kampung, dia mengetahui nama seluruh orang sekampungku juga tentang peristiwa yang terjadi pada setiap orang, misalnya hari ini siapa yang melahirkan anak, siapa yang mati, anak dari siapa atau orang tua dari siapa, dia juga mempunyai nama panggilan unik yang dia ciptakan sendiri untuk setiap orang, misalnya panggilan untukku "kolida", padahal namaku jauh dari panggilan itu "yuda", tapi begitulah dia akan dengan bangga meneriakkan nama itu jika kebetulan bertemu denganku di jalan saat dia pulang dari hutan

"kolida"
"yuda" jawabku tak kalah keras
"lah kolida" dia akan lebih sengit sambil terbahak-bahak

diam-diam aku menaruh hormat padanya, dia orang yang mencintai profesi dengan tulus, juga orang yang pandai bersyukur meskipun tidak pernah mengenal kata itu, menjadikan rutinitas sebagai permainan belaka dan tak pernah mencacinya, terkadang aku malu dengan orang sepertinya yang dianggap tidak normal oleh lingkungan tapi menurutku sangat normal menjalani kehidupan, ah...aku jadi berfikir, jangan-jangan semua yang menganggapnya tidak normal justru tidak normal dan hanya dia yang normal, sebenarnya seperti apa kenormalan itu???? entahlah......

Beranda Rumah, 25 Februari 2010

Mendefinisikan diri; Sebuah renungan masa depan Petani

Jauh di dalam gunung-gunung, jiwa yang lembut hati bertanya, Untuk siapakah bunga-bunga liar itu berkembang? Untuk serigala-serigala dan anjing ajak, Yang tahu angin yang berhembus di pucuk pohon cemara dan Ruh yang mengalir di lembah. (masanobu fukuoka)

Di sebuah gubuk sederhana, diatas tikar yang tergelar tiga cangkir kopi hitam kental tersaji, disampingnya sebungkus rokok kretek djarum coklat dan sebungkus tembakau mole serta kertas tembakau cap wayang, tiga orang yang kurang waras akalnya berkumpul melingkar, orang pertama kadang meracau membicarakan bahasa-bahasa langit yang hanya difahaminya sendiri atau mungkin hanya bunyi yang keluar dari mulut tanpa bermaksud apapun, seorang yang lainnya memegang pensil dan mencoretcoretkan sesuatu diatas kertas kardus bekas kemasan mie instan, yang terakhir sedang asyik membongkarbongkar puntung rokok kretek dan mengumpulkan tembakaunya pada sebuah plastik hitam.

“aha…selesai juga akhirnya, beginilah masadepan kampung kita…inilah yang akan kita ciptakan” pekik orang kedua kegirangan sembari mengacungngacungkan kertas kardus bekas kemasan mie instan yang tadi dicoretcoretnya

“naon lah maneh tong loba ngacaprak, mana nempo urang” sungut orang ketiga yang sedari tadi asyik membongkarbongkar puntung rokok kretek dan mengumpulkan tembakaunya pada sebuah plastik hitam

Orang kedua yang terus meracaukan bahasabahasa langit yang hanya dipahaminya sendiri atau mungkin hanya bunyi yang keluar dari mulutnya tanpa bermaksud apapun, terlihat serius dahinya mengernyit lalu sabdanya:

“Tujuan puncak pertanian bukanlah semata-mata menanti hasil panen, melainkan mengolah dan menyempurnakan manusia,” demikian ajaran Fukuoka

“mempercayakan diri pada kebijakan terhadap proses kehidupan, kita dapat memperoleh apa yang kita perlukan tentang bagaimana cara yang tepat ketika menanam tanaman-tanaman pangan. Dia mengatakan bahwa seorang petani selayaknya lebih baik bersikap cermat mempelajari dan memahami siklus alam lalu bekerja sesuai dengan pola-pola alam itu, daripada mencoba menundukkan dan menjinakkan alam”.

“baiklah mari kita buat sederhana, teori pertanian modern yang membuat petani merasa dikejar waktu dengan pertanyaan-pertanyaan “bagaimana jika melakukan ini, bagaimana bila dicoba dengan itu”. Logika nungging Fukuoka adalah, “bagaimana agar tak mengerjakan ini-itu”.

“itulah yang saya coba gambarkan dalam kertas kerja ini….hahaha” orang kedua yang mencoretcoretkan pensil pada kardus bekas mie instan berkata dengan suara yang dibuatbuat supaya kedengaran dramatis. Lalu dia mengatur wajahnya agar terlihat berwibawa dan melanjutkan “Beginilah sekenarionya

jangan bermimpi bahwa kita dapat melakukan semua ini bertiga, itu sama saja dengan bunuh diri, semuanya harus dengan perencanaan yang matang dan berkelanjutan. Dalam coretan ini saya gambarkan peta kasar lingkungan yang kita diami, terdiri dari rumah penduduk, rumah ibadah, gubuk tempat kita berkumpul saat ini, jalan yang membentang dari ujung kampung disebelah barat sampai batas dengan kampung tetangga di sebelah timur, saluran irigasi cibalungbang yang mengairi sawahsawah kita.

Pertamatama yang harus kita kerjakan adalah menyebarkan penyakit gila yang kita idap kepada masyarakat, tapi kita lakukan dari lingkup yang paling kecil, pemudapemuda atau anakanak sekolah yang doyan nongkrong kita tarik ke gubuk ini, jadikan gubuk ini tempat nongkrong. Perlahan lahan kita buat mereka terluka dan infeksi lalu buat formula penawar dan obati mereka dengan bertahap, ketika mereka butuh akan mudah bagi kita untuk menjelaskan. Dan kita akan mulai melakukan proyek ini dari ruang lingkup kecil di gubuk kita ini bersamasama dengan mereka, setelah proyek ini berhasil kita tak usah lagi mengejar masyarakat karena mereka yang akan mengejar kita, dan rencana besar kita untuk menciptakan surga dikampung kita akan terwujud”.

orang ketiga yang dari tadi terpesona dengan ujaran panjang lebar kedua rekannya mulai tersadar, mengingat gelas kopi sudah tandas tinggal ampas, rokok kretek Djarum coklat tinggal bungkusnya, lalu celetuknya

“ ngarti urang oge, tapi timana urang dahar sapopoe jeung ngopi jeung udud”

di pematang kolam, 10 Oktober 2010

Bersama merencanakan masa depan


sebuah ikhtiar akan menemukan hasilnya

21 Maret 2011

Kerangka Standar Prosedur Operasi Budidaya Lele (pembenihan)

Kegiatan pembenihan Ikan Lele Dumbo yang meliputi :
a. Pembuatan kolam pendederan
b. Pembuatan kolam induk
c. Pengelolaan dan seleksi Induk
d. Persiapan wadah penetasan
e. Pemijahan
f. Penetasan telur
g. Perawatan Larva
h. Panen larva.
i. Pendederan I
j. Pendederan II
k. Pendederan III
l. Panen benih
m. Penjualan benih

Monitoring atau evaluasi tingkat keberhasilan kegiatan pembenihan yang dilihat dari :
a. Fekunditas
b. Hatching rate (Daya tetas telur)
c. Survival rate (Kelangsungan hidup)

Evaluasi Rugi Laba Budidaya Lele
a. Modal kerja selama satu siklus
b. Hasil penjualan benih dan benih tersisa selama satu siklus

Rencana pengembangan usaha
a. Sistem kemitraan
b. Sistem permodalan
c. Sistem pemasaran
d. Sistem kelembagaan usaha

Manifesto

Petani di Indonesia bercitrakan kemiskinan, “uneducated”, tradisional, dan tidak berbudaya industrial. Membicarakan bisnis yang berbasis pertanian atau lebih lazim dikenal dengan istilah agribisnis atau agrobisnis seolah adalah hal yang musykil dilakukan. Namun kami tidak menerima begitu saja stigma semacam itu mengingat Indonesia adalah wilayah Agraris dengan potensi sumber daya alam yang sangat melimpah dan kondisi Iklim yang sangat mendukung terhadap keberhasilan usaha budidaya pertanian.

Kami bercita-cita menjadi Petani, selayak orang lain yang mencitak-citakan menjadi dokter, guru dan cita-cita profesi lainnya yang layak diperjuangkan dan memberi kehidupan kepada pelakunya. Namun kami menyadari sepenuhnya, bahwa untuk mewujudkan hal ini bukanlah hal yang mudah, dan kami berketetapan hati bahwa ketidakmudahan ini bukan berarti ketidakmungkinan.

Maka dengan bangga kami memproklamirkan diri sebagai X-farmer Community (Xco), yang berikhtiar menggalang para pemuda yang potensial dan punya ideologi untuk bersama-sama memperjuangkan pertanian sebagai bagian dari kehidupan yang bermartabat dan berorientasi kepada bisnis dan pendidikan, sehingga mengikis stigma petani yang “uneducated” dan terus terpinggirkan.

Ayo Bangkit Petani Indonesia...

15 Agustus 2009

BETERNAK KELINCI, SEBUAH UPAYA MENCARI PENGHIDUPAN

Tadinya sekedar hobi dipelihara di dapur dengan kandang seadanya dan makanan dari limbah sayur dari dapur, lama kelamaan beranak dan tambah banyak lalu iseng-iseng search di internet kalau-kalau ada penampung yang dekat dengan rumah dan ternyata memang ada di wilayah t6asik yang tidak terlalu jauh. dan akhirnya mencoba mengusahakannya dengan menambah 10 indukan dengan kandang diperlebar di bangunan bekas greenhouse yang sudah tidak terpakai, mulanya susah menernakkan kelinci dengan jumlah yang mulai banyak, kasusnya anakan sebelum usia sapih selalu kena penyakit mencret dan mati. tidak pernah ada satu anakpun yang sampai terjual, semakin banyak saja anak yang mati dan semakin penasaran pula untuk terus mengembangkannya, akhirnya saya berkonsultasi dengan peternak-peternak lain yang berada di wilayah tasik sekaligus tentang pemasarannya, dan setelah di hitung-hitung ternyata beternak kelinci dengan pedoman yang benar memang prospektif. namun ditengah membuncahnya semangat tiba-tiba hal yang tidak terpikirkan sebelumnya terjadi dalam semalam kelinci-kelinciku yang berjumlah sekitar 30 ekor iondukan dan 20 ekor anakan habis dibantai anjing liar....
oh kelinciku sayang kelinciku malang, tapi aku tidak patah semangat ini satu hal yang patut direnungkan, tata laksana kandang yang asal-asalan ternyata berakibat fatal, setelah kejadian itu aku langsung membangun kandang semi permanen yang lebih aman dari hewan pemangsa tepatnya di belakang rumah dan mulai di isi dengan indukan kelinci-kelinci lokal mulanya, namun setelah berjalan 3 bulan aku mulai hitung-hitungan dan hasilnya beternak kelinci lokal keuntungannya sangat sedikit dibanding beternak kelinci hias yang bisa mencapai 10x lipatnya, dan akhirnya aku menambah jumlah indukan dari jenis american fuzy lop, angora inggris, lionhead dan american rex, dari tambahan hunian baru ini aku jadi punya nilai tambah dan dengan semakin pahamnya dalam tatalaksana ternak kelinci pekerjaanku terasa semakin ringan