15 Agustus 2009

BETERNAK KELINCI, SEBUAH UPAYA MENCARI PENGHIDUPAN

Tadinya sekedar hobi dipelihara di dapur dengan kandang seadanya dan makanan dari limbah sayur dari dapur, lama kelamaan beranak dan tambah banyak lalu iseng-iseng search di internet kalau-kalau ada penampung yang dekat dengan rumah dan ternyata memang ada di wilayah t6asik yang tidak terlalu jauh. dan akhirnya mencoba mengusahakannya dengan menambah 10 indukan dengan kandang diperlebar di bangunan bekas greenhouse yang sudah tidak terpakai, mulanya susah menernakkan kelinci dengan jumlah yang mulai banyak, kasusnya anakan sebelum usia sapih selalu kena penyakit mencret dan mati. tidak pernah ada satu anakpun yang sampai terjual, semakin banyak saja anak yang mati dan semakin penasaran pula untuk terus mengembangkannya, akhirnya saya berkonsultasi dengan peternak-peternak lain yang berada di wilayah tasik sekaligus tentang pemasarannya, dan setelah di hitung-hitung ternyata beternak kelinci dengan pedoman yang benar memang prospektif. namun ditengah membuncahnya semangat tiba-tiba hal yang tidak terpikirkan sebelumnya terjadi dalam semalam kelinci-kelinciku yang berjumlah sekitar 30 ekor iondukan dan 20 ekor anakan habis dibantai anjing liar....
oh kelinciku sayang kelinciku malang, tapi aku tidak patah semangat ini satu hal yang patut direnungkan, tata laksana kandang yang asal-asalan ternyata berakibat fatal, setelah kejadian itu aku langsung membangun kandang semi permanen yang lebih aman dari hewan pemangsa tepatnya di belakang rumah dan mulai di isi dengan indukan kelinci-kelinci lokal mulanya, namun setelah berjalan 3 bulan aku mulai hitung-hitungan dan hasilnya beternak kelinci lokal keuntungannya sangat sedikit dibanding beternak kelinci hias yang bisa mencapai 10x lipatnya, dan akhirnya aku menambah jumlah indukan dari jenis american fuzy lop, angora inggris, lionhead dan american rex, dari tambahan hunian baru ini aku jadi punya nilai tambah dan dengan semakin pahamnya dalam tatalaksana ternak kelinci pekerjaanku terasa semakin ringan