22 Maret 2011

Belajar Kearifan Hidup dari orang yang terabaikan

namanya andi, orang sekampungku sering memanggilnya dengan sebutan "gondil" entahlah asal muasal nama alias itu sejak kapan diberikan padanya aku tidak tahu, pekerjaan sehari-harinya mengumpulkan kayu bakar dari batang daun kelapa kering, atau di sebut barangbang atau baralak dalam bahasa sunda.

gondil, kita sebut saja demikian, karena memang itulah nama panggilannya, tidak mengenal huruf, karena tidak pernah makan bangku sekolah (memangnya siapa yang makanannya bangku sekolah???), maksudku dia tidak pernah belajar di sekolah seperti kita, dan mengenyam pendidikan baca tulis, dia juga tidak mengenal dunia luar, tidak pernah nonton televisi, apalagi bemain fesbuk,

pagi buta di saat orang-orang kampung masih terlelap, gondil sudah siap dengan peralatan kerjanya, golok di pinggang, gantar dari bambu panjang yang ujungnya diberi pengait ditenteng di pundaknya, dan menjelang remang subuh dia sudah berada di hutan,

dia berkeliling dari satu pohon kelapa ke pohon kelapa yang lainnya, melihat-lihat mana batang daun kelapa yang sudah kering dan mudah untuk dikait dengan gantar bambunya, setelah ditemukan maka dikaitlah barangbang-barangbang itu dengan cekatan, setelah dapat sekira 3-5 batang maka dia akan pulang, membawa hasil kerjanya

sampai di rumah dia selalu menyimpan hasil pekerjaannya di belakang rumah yang sudah dia set sedemikian rupa untuk tempat penyimpanan, lalu dia pergi ke dapur mencari makanan, orang-orang rumahnya terutama kaka dan ibunya, karena dia sudah tidak punya ayah, sudah mengerti betul jadwal gondil ini, mereka selalu sedia menyajikan makanan, maka gondil bisa menyantap sajian ini dengan lahap,

selesai makan dia langsung membelah-belah batang daun kelapa itu menjadi beberapa bagian, lalu menjemurnya, setelah itu dia kembali ke hutan sampai menjelang dzuhur melakukan aktivitas yang sama seperti yang dilakukannnya di pagi buta, dan seterusnya sampai tiga kali dalam sehari dia akan melakukan hal itu, lengkap dengan acara makan dan membelah-belah batang daun pohon kelapa itu menjadi beberapa bagian dan menjemurnya.

pernah suatu kali aku bertanya kepada orang sekampungku perihal gondil ini, mengapa dia sampai tidak mengenyam pendidikan formal, dan setelah kutelusuri ternyata dia pernah sekolah di madrasah ibtidaiyyah 30 tahun yang lalu, namun dia sedikit terganggu jiwanya dan memilih keluar ketika belum seminggu menikmati pelajaran sekolah, ceritanya begini.

dia memiliki satu pensil yang sangat dia sukai, ya layaknya anak-anak kecil akan menganggap sangat berarti apapun yang disukainya meskipun itu sangat sepele dalam pandangan orang dewasa, dan nasib sial memang sedang akrab pada gondil pada waktu itu, pensil kesayangannya itu raib entah kemana, dia sangat terpukul dengan kejadian itu, dan membuat jiwanya terguncang, tidak ada seorangpun yang mengerti dan mampu menyembuhkan luka hatinya, dan peristiwa itu mengubah arah hidupnya hingga hari ini

entah kapan dia memulai aktivitasnya sebagai pengumpul batang daun kelapa kering, biarlah hanya dia dan keluarga yang mengetahuinya, dan perlu diketahui dia adalah tulang punggung dalam kelurganya,

yang menarik dari kehidupannya, dan kadang membuatku iri, dia tidak pernah sekali saja mengeluh, dan tidak pernah kehilangan tawa di bibirnya, selama pohon kelapa memberinya kehidupan dia tidak akan peduli pada apapun, dan pohon kelapa selalu berbaik hati padanya, dia dan pohon kelapa sudah bermutualisme, dan saling berbicara satu samalain dengan bahasa yang tidak akan pernah kita pahami, aku kira pohon kelapa telah banyak mengajarinya tentang kehidupan,

satu lagi yang aku kadang tidak mengerti dengannya, meskipun tak pernah bergaul secara langsung dengan orang kampung, dia mengetahui nama seluruh orang sekampungku juga tentang peristiwa yang terjadi pada setiap orang, misalnya hari ini siapa yang melahirkan anak, siapa yang mati, anak dari siapa atau orang tua dari siapa, dia juga mempunyai nama panggilan unik yang dia ciptakan sendiri untuk setiap orang, misalnya panggilan untukku "kolida", padahal namaku jauh dari panggilan itu "yuda", tapi begitulah dia akan dengan bangga meneriakkan nama itu jika kebetulan bertemu denganku di jalan saat dia pulang dari hutan

"kolida"
"yuda" jawabku tak kalah keras
"lah kolida" dia akan lebih sengit sambil terbahak-bahak

diam-diam aku menaruh hormat padanya, dia orang yang mencintai profesi dengan tulus, juga orang yang pandai bersyukur meskipun tidak pernah mengenal kata itu, menjadikan rutinitas sebagai permainan belaka dan tak pernah mencacinya, terkadang aku malu dengan orang sepertinya yang dianggap tidak normal oleh lingkungan tapi menurutku sangat normal menjalani kehidupan, ah...aku jadi berfikir, jangan-jangan semua yang menganggapnya tidak normal justru tidak normal dan hanya dia yang normal, sebenarnya seperti apa kenormalan itu???? entahlah......

Beranda Rumah, 25 Februari 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar